Me and my life

This is a small tale when I abandoned everything to chase a romantic dream I was praying, might change my life for the better. Even if I had no Idea what would make me happy. I looked at friends who seemed happy with their lot and felt picky and ungrateful, because I knew I was ridiculously fortunate and I couldn’t help wondering. I guess I was in a “ what – the – hell – am – I – doing “ crisis. Fighting back cynicism, pessimism and every negative ism in the dictionary. Only desperation made me stand on my ground. I can’t stand girls but I’ve always been independent, from going to the movies and doing anything else by myself. But I was starting to think, there was something wrong with me. I’d had loads of girlfriends, but there was always some vital chemistry missing. Was it too much to ask for a smart, funny and, thus, sexy girl who adored me. I wasn’t looking for Scarlett Johansson look alike, I simply craved the company of someone who would make me think and laugh and feel. The process went something like this : Meet Miss potential ; fall head over heels in lust, love or both. Turn into performing puppy, do anything to render myself adorable and to win points rather than just be me. Struggle to maintain my independence, start to dislike what I have become but by this time it’s too late.



And now what..? I feel like I am at the drama, the tale sounds so melodic yet pathetic.















Tuesday, October 25, 2011

365 MALAM

Ada kalanya sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi dan kita harus menerimanya, sesuatu yang tidak ingin kita ketahui tetapi harus mempelajarinya dan seseorang yang kita sayangi tapi harus merelakan kepergiannya. Terkadang sesuatu terjadi di luar alasan ibarat keajaiban dari cintamu.

365 malam pun terlewati oleh secangkir kebahagiaan dan sebelanga kepahitan dalam kehampaan. Senampan senja kau suguhkan, lentik jemarimu indah, tatap matamu tak sanggup ku gubah. Jejakmu lembut dalam hangat yang terperangkap dalam racikan daunan teh seputik melati menepi di pinggir cangkir menyengatkan wangi di bibir. Dan senyummu ku seruput tanpa akhir.

Kamu telah datang, hadir di depan mataku, dengan wajahmu yang teduh. Cantik laksana edelweiss yang berembun di pagi hari. Kau bagaikan setiap rintik hujan yang meberikan kehidupan, menyimpan sejuta makna dan debar dalam diriku.

Bergetar di akhir oktober, bergema di awal nopember dan terhempas di akhir januari. Awan tipis tersapu angin seakan handuk terlepas meninggalkan gemas pada tubuhmu dan kurasa udara yang berbeza di hadirkan hujan terbalut sang bayu. Angin sepoi di celah jendela, kaukah yang membawanya ?

Lengkung alis matamu memayungi hujan senja, aku menghangatkan diri pada sinar matamu yang anggun, pada sunyi yang unggun, pada sketsa hatimu yang mengambang di secangkir senja yang rembang.
Laksana rembulan menyinari insan bumi. Jika kau memandang, dunia seakan tergetar karena ketulusanmu. Jika kau berkata, dunia sekan terlena karena kelembutanmu.  Jika kau tersenyum, duniapun tersenyum karena keikhlasanmu.

Ironis memang, rupanya sang maha pencipta telah mengguratkan jalan cerita yang berbeda dalam sebuah takdir. Perih menjilat bara api, keteguhan tanpa belati.  Pada siapa harus kuadukan, tiap kali hati dalam kegusaran  ? Pada siapa pula harus kutangiskan, tiap kali kesedihan datang bertandang ?

Bila aku menangis karenamu, biarkan air mataku terkumpul menjadi telaga agar kau bisa tenggelam untuk senantiasa menyelami segenap perasaanku padamu.

Kau yang di sana, kau yang nun jauh di mata, kau yang tak pernah aku lihat lagi, apa kabar sayangku ? 

No comments:

Post a Comment