Sebenarnya ini bukan tentang kepergianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan
kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah
kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri
seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah
mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong,
hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba
hilang berganti kemarau gersang.
Pada air mata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam
perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit
manis selama kau ada,
Aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar
kau di sini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku
adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan
aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan, bidadari surgaku...
9 November 1981 - 31 Januari 2011.
Selamat ulang tahun mawar putihku, semoga kau bahagia di sana bersama NYA.
Kutipan dari BJ. Habibie

No comments:
Post a Comment